| Bersama Soneta Group, Rhoma mewakili musik dangdut dalam konser perdamaian di Istora Senayan, berbagi panggung dengan Ahmad Albar dan God Bless sebagai representatif musik rock. Konser tersebut berhasil mendamaikan perseteruan yang selama itu terjadi antara kubu musik dangdut dan musik rock.
Duetnya dengan Elvy Sukaesih mengantarkan keduanya kepada puncak popularitas. Lagu-lagu mereka seperti "Janda Atau Perawan" dan "Penasaran" masih dikenal hingga saat ini. Bahkan, begitu serasinya duet keduanya, membuat Rhoma mendapat gelar Raja Dangdut, sementara Elvy yang menjadi Ratu Dangdutnya.
Rhoma juga berhasil mewujudkan impiannya untuk berduet bersama penyanyi idolanya sedari kecil, seorang Mahabintang dalam dunia musik India yang telah menjual dua milyar rekaman, Latha Mangeshkar, dan tercantum namanya di Guinness Book of Records.
Sukses mengangkat derajat musik dangdut, Rhoma dan Soneta melanjutkan perjuangan memasuki bidang dakwah dan syiar Islam. Dengan konsep Sound of Moslem, lirik-lirik lagu Soneta senantiasa diisi pesan moral yang sarat nilai-nilai Islami. Rhoma percaya bahwa musik bukanlah sekedar sarana untuk hura-hura belaka, namun merupakan sebuah pertanggungjawaban kepada Tuhan dan manusia, dengan kekuatan untuk mengubah karakter seseorang, bahkan karakter sebuah bangsa.
Rhoma melakukan dakwah Islam tidak hanya lewat musik, tapi juga lewat film-film layar lebar bernuansa musikal yang dibintanginya. Salah satu filmnya yang berjudul "Nada Dan Dakwah" (1991) dengan jelas menggambarkan nafas perjuangan Rhoma.
|